Islam dan Keunikan Tanda-tandanya

Wahai sahabat, Islam adalah satu-satunya agama yang Allah ridhai. Setiap perilaku dan sikap yang berlandaskan Islam (insya Allah) mendapat posisi tinggi di mata Allah. Islam mengajarkan jin dan manusia untuk berpedoman kepada Al-quran dan As-sunah sebagai petunjuk dari Allah. Akan tetapi, tahukah engkau sahabat, seberapa besar kehinaan yang menjadi balasan mereka? Kehinaan atas ketidak patuhan manusia untuk mengikuti petunjuk yang Allah turunkan tersebut. Sehingga Alquran dan As-sunah menjadi tanda-tanda atas ketaatan dan keingkaran mereka. Dalam artian, apakah mereka akan semakin beriman ketika Alquran dan Sunah menjadi pegangan mereka atau malah menjauhinya? Sebenarnya seberapa besar pengaruh tanda-tanda itu terhadap diri kita? Mengapa bisa tanda-tanda itu mempengaruhi kadar keimanan dan ketakwaan kita? Bagaimana korelasinya antara keimanan dan ketakwaan dengan tanda-tanda tersebut?

Berdasarkan pemahaman saya, Alquran menyebut tanda dengan kata ayat. Dimana kata-kata ayat sendiri sering kita jumpai dalam beberapa surat. Mari kita simak beberapa penggalan ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan tanda-tanda Allah.

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍۢ ثُمَّ إِذَآ أَنتُم بَشَرٌۭ تَنتَشِرُونَ۝وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ۝وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ خَلْقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَٰنِكُمْ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّلْعَٰلِمِينَ۝وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ مَنَامُكُم بِٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱبْتِغَآؤُكُم مِّن فَضْلِهِۦٓ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَسْمَعُونَ۝وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ يُرِيكُمُ ٱلْبَرْقَ خَوْفًۭا وَطَمَعًۭا وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ فَيُحْىِۦ بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَآ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَعْقِلُونَ۝وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَن تَقُومَ ٱلسَّمَآءُ وَٱلْأَرْضُ بِأَمْرِهِۦ ۚ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةًۭ مِّنَ ٱلْأَرْضِ إِذَآ أَنتُمْ تَخْرُجُونَ۝

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradah-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).” (QS. Ar-Rum [30] : 20-25)

“Sindiran” yang Allah berikan memang sangat luar biasa menyentuh hati. Pernahkah kita memikirkan sejenak tentang kehidupan ini sahabat? Pernahkah kita bertanya terhadap diri sendiri mengapa diri ini ditakdirkan menjadi manusia? Saya pernah berpikir, bagaimana jadinya ketika saya diciptakan menjadi Setan atau bahkan Iblis? Neraka menjadi tempat kembali yang Abadi (Naudzubillahi tsumma naudzubillahi min dzalik). Tetapi, Allah malah menjadikan diri kita ini sebagai makhluk yang kita kenal bernama manusia. Dengan berbagai macam kelebihannya yang sudah diperkenalkan sejak duduknya kita dibangku sekolah dasar. Yang jelas, satu hal yang sangat saya pahami, bahwa there is no free lunch (Tidak ada di dunia ini yang gratis),begitupun dengan tanda-tanda penciptaan kita sebagai manusia di bumi. Lalu, apa yang mesti kita bayarkan kepada Allah atas penciptaan kita sebagai manusia? Apakah saya harus membayar dengan harta yang saya miliki atau dengan apa? Tapi, Allah menjawab dalam firmannya:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(QS. Az-Zaariyaat [51] : 56)

Kaitannya dengan ibadah, kita tidak akan pernah terlepas dari yang namanya petunjuk. Bagaimana bisa kita melakukan ibadah yang sesuai dengan perintah Allah tanpa kita mengetahui perintahnya dan bagaimana petunjuk melaksanakannya. Hal itu hanya akan mendatangkan kesesatan terhadap diri kita bak seorang pelayar yang tak tahu arah angin dan tujuan, hanya akan terombang-ambing oleh kerasnya deburan ombak. Sehingga Alquran dan Sunahlah menjadi tanda bagi kita atas eksistensi Allah dalam kehidupan kita.

Pada tahun 2012, seorang reporter investigasi The New York Times yang bernama Charles Duhigg menuliskan hasil pengamatannya tentang kehebatan kebiasaan. Lulusan Harvard Business School dan Yale College tersebut menceritakan dalam bukunya yang berjudul The Power of Habit (Highly Recommended Books). Dalam “kitab kuning” karangan Charles tersebut, diulas terkait bagaimana pengaruh tanda dalam membentuk suatu kebiasaan seseorang. Tanda menjadi prinsip dasar dalam pembentukan kebiasaan selain rutinitas dan ganjaran. Dalam bagian pertama bukunya, ia mengisahkan tentang seorang pria asal San Diego yang bernama Eugene Pauly (EP). Dalam penuturan Charles, Eugene, nama panggilan EP menderita penyakit Ensefalitis Viral, penyakit akibat sejenis virus yang relatif tak berbahaya dan menyebabkan herpes labialis, lepuhan kulit, dan infeksi ringan di kulit. Akan tetapi, virus tersebut sudah menggregoti otak Eugene. Meski demikian, Eugene dianggap telah memberikan sumbangsih penting bagi ilmu pengetahuan dan kelak menjungkirkan sebagian besar yang kita ketahui mengenai kebiasaan.

Inti bagian pertama itu adalah bahwasanya kebiasaan adalah sebuah sistem dan bukan takdir. Kebiasaan yang bisa diabaikan, diubah, ataupun diganti. Habit Path (Alur Kebiasaan) seseorang hanya terdiri dari 3 proses. Pertama, ketika ada tanda, pemicu yang memberitahu otak untuk memasuki mode otomatis dan kebiasaan mana yang harus digunakan. Kemudian ada rutinitas yang bisa jadi fisik, mental, ataupun emosional. Terakhir, ada ganjaran (reward), yang membantu otak kita mengetahui apakah lingkar ini patut diingat untuk masa depan. Semakin diulang-ulang alur proses tersebut (Tanda-rutinitas-ganjaran) maka akan semakin otomatis. Sederhananya, ketika otak melihat suatu tanda tertentu, maka ia akan memprosesnya menjadi sebuah rutinitas dan akan mendapatkan hasil dari rutinitas tersebut. Hal ini sudah dilakukan pengujiannya hingga di Duke, Harvard, UCLA,Yale, USC, Princeton, University of Pennsylvania, dan diberbagai universitas di Britania Raya, Jerman dan Belanda.

Ketika orang-orang barat baru memahami terkait masalah tanda pada akhir abada 20-an ini, umat Islam sudah diperkenalkan sejak 14 abad silam. Salah satu yang melekat dalam diri umat Islam adalah tanda shalat (Umumnya kita mengenal dengan adzan). Pernahkah terpikirkan oleh kita, mengapa ketika adzan ada orang-orang yang secara otomatis (tanpa pikir panjang) melangkahkan kakinya menuju masjid? Itu tandanya orang tersebut sudah memiliki kebiasaan dimana ia mendengar adzan, ia harus pergi ke masjid. Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam-lah yang telah mengenalkan kebiasaan dari tanda-tanda tersebut. Rasulullah mengenalkan adzan sebagai tanda untuk melaksanakan perintah Allah yaitu shalat. Dari sinilah bisa dipahami bahwa pengaruh tanda yang Allah berikan kepada kita, apabila kita lakukan secara rutin akan mendatangkan derajat keimanan dan ketakwaan yang Allah harapkan. Tanda yang dimaksud pun berbagai macam seperti yang dimaksudkan dalam QS. Ar-Rum ayat 20 sampai 25 di atas. Rumusnya, lihat tanda-tanda Allah, lakukan rutinitas yang baik (Sesuai Alquran dan Sunah), (insya Allah) ganjaran (Surga) sudah Allah siapkan bagi kita, dan lakukan secara berulang-ulang. Itulah bagaimana cara membentuk suatu kebiasaan yang positif bagi dunia dan akhirat kita. Wallahu’alam bish shawab

Fiqly Firnandi Ramadhan
Bersama tanda-tanda cinta yang Allah berikan.
Dimuat di Website JMMI ITS
Link

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s