Gertakan Hati, Sebuah Isyarat Alam

Hari ini, Rabu (22/10) adalah variabel waktu dari sebuah hikmah yang hendak saya tuliskan. Sejatinya memang setiap hari mempunyai hikmah yang berbeda-beda. Hikmah itu bukan bersumber dari kegalauan menjalankan rutinitas mahasiswa yang berambisi mendapat IP 4. Bukan pula karena dahaga diri untuk terus berprestasi. Apalagi karena hafalan Alquran yang tak kunjung beranjak dari Juz 29. Tapi ada hal menarik yang perlu saya kabarkan agar menjadi sebuah inspirasi serta bermakna luas.

Tak pernah dipungkiri bahwa setiap insan mencoba untuk berinteraksi dengan hatinya. Sebuah ungkapan menyatakan bahwa suara hati adalah kebenaran lisan yang tidak terucap. Tak sedikit manusia yang mencari suara hati nurani ke dalam diri mereka. Banyak pula yang mempertanyakan tentang kebenaran dari itu semua. Mereka sangat skeptis dengan pembuktian yang terkadang sulit diterima oleh nalar maupun logika pada umumnya. Dengan sebuah perenungan, hal itu hanya akan menjadi sebuah bisikan yang perlu penyikapan. Apakah mereka bereaksi positif atau negatif, tergantung dari hasil perenungan yang mendalam tersebut.

Saya pernah membaca sebuah topik yang menarik dari sebuah buku terjemahan. Judul asli buku tersebut adalah “The Secret” karya Rhonde Byrne, yang sekarang sudah ada versi movie-nya. Dari kedua sumber tersebut kita akan dapat teori tentang Law of Attraction (LoA). Sebenarnya apasih LoA itu? Pernah nonton film “MesTaKung”-nya Prof Yohanes Surya, PhD? Nah, tidak jauh beda substansi yang disampaikan dari setiap sumber tersebut. Semuanya bermuara pada kekuatan pikiran dan sinergitas alam dengan manusia.

Dari sana saya sedikit menggaris bawahi bahwasanya pikiran bersumber dari hati. Suara hati menjadi bahan baku pemikiran yang akan muncul menjadi sebuah ungkapan. Akan tetapi, setiap ungkapan itu terkadang “dinodai” oleh keangkuhan dan “gengsi” diri yang tidak ada gunanya. Pendusta atas kenyataan akhirnya menjadi sebuah label yang melekat dari subjek tersebut.

Ada tiga kondisi yang mana satu sama lain memiliki satu keterikatan. Sebuah ikatan hati yang menyatukan setiap peristiwa tersebut. Bahkan hingga penyikapan itu kembali pada hati yang mengikatnya pula. Sedikit membingungkan memang ungkapan yang coba saya sederhanakan tersebut. Memang sulit bagi saya untuk menggambarkan kondisi itu dalam sebuah untaian kata yang bisa diterima banyak orang. Semoga para pembaca bisa satu frekuensi dengan apa yang saya gambarkan. Sedikit penjabaran yang coba saya suguhkan semoga bisa memperjelas gambaran yang hendak pembaca hadirkan.

Kondisis pertama, dimana pagi itu semangat menggebu menghampiri saya seperti biasanya. Pasalnya, tak pernah saya lewatkan setiap mata kuliah dengan penuh kesungguhan. Pagi ini saya kuliah transport phenomena, identik dengan teori “jelimet” mekanisme pergerakan fluida dalam suatu media terkait perpindahan panas, massa dan momentum. Tak dipungkiri, ambisi untuk tampil maju ke depan menyelesaikan persoalan yang diberikan dosen selalu saya alami. Akan tetapi, kesempatan itu tak kunjung datang. Pasalnya, semua itu ditentukan oleh selera dosen. Pada hari Rabu itulah hal yang tak diduga muncul. Berawal dari firasat, akhirnya saya berhasil menjawab ambisi itu. Dengan jalan yang tidak diduga. Ternyata posisi duduk nomor 22 telah mengantarkan saya untuk unjuk gigi. Yah, selera dosen kala itu berlabuh pada 22 Oktober 2013, berlabuh di tempat duduk nomor urut 22 dan 10.

Kondisi kedua, rasa was-was muncul disaat sadar bahwa diri ini melanggar peraturan. Pasalnya, sepeda motor tanpa dilengkapi dengan kaca spion adalah sebuah pelanggaran (entah dikenai pasal berapa saya tidak tahu. Jangan tanyakan saya juga soal pasal ini). Yang jelas, saya sadar bahwa itu memang salah. Akan tetapi, kondisi kepepet menjadikan rasionalitas akan kesadaran melanggar peraturan itu hanya bisikan semata. Untuk menuju tempat kuliah sepagi mungkin tidak bisa menggunakan kendaraan umum. Karena kendaraan umum (angkot) kedatangannya sangat Penuh Harapan Palsu. Sulit ditebak siklus keberangkatan dari satu angkot ke angkot lainnya. Kadang harus menunggu sekitar 30 menit, bahkan bisa mencapai satu jam. Kondisi yang tidak menguntungkan bagi saya saat itu jikalau menggunakan fasilitas ini. Akhirnya alternatif menggunakan sepeda motorlah menjadi pilihan terakhir. Salah satu teman Heroboy (Peserta PPSDMS R4 Surabaya) kebetulan sedang menjadi pemateri di salah satu kegiatan di Bandung. Tak lama berselang sebelum keberangkatannya itu memang saya sudah booking sepeda motornya. Saya tahu kalau meminjam ke teman lainnya adalah sebuah kemustahilan karena setiap orang pun membutuhkan. Karena memang harus sangat pagi saya berangkat ke kampus, akhirnya mau tidak mau saya menggunakannya. Singkat cerita, dari sanalah muncul firasat baru yang mengatakan saya akan ditilang oleh Polisi. Tak lama dari firasat itu, ada sebuah pergolakan batin yang terus tidak mempercayai suara hati itu. Antara mengingkari suara hati dan menaatinya. Sepanjang perjalanan pun dihantui rasa takut itu. Hingga akhirnya saya hampir diberhentikan oleh dua orang polisi yang sudah menghadang pinggir ruas jalan, satu di kiri jalan dan satu di kanan jalan. Sulit sebenarnya bagi saya untuk lolos dari “terkaman” mereka. Tapi untungnya, sebuah mobil Suzuki APV depan saya berjalan cukup cepat membuat saya terpacu untuk tancap gas pula (Sebenarnya ini bukan sebuah kesengajaan, saya tidak tahu pula bahwa disana ada polisi yang sedang Inspeksi Mendadak. Mungkin karena tidak terlihat oleh mereka, jadi saya tidak diberhentikan).

Kondisi ketiga, saat lolos dari “terkaman” itu, saya memikirkan akan melunasi pinjaman yang diberikan saat mengikuti kejuaraan daerah taekwondo beberapa minggu lalu kepada salah satu teman. Masih dalam satu rangkaian waktu, setelah lepas dari “terkaman” itu saya dihampiri oleh seorang agen dari Jawa Pos. Beliau dengan penuh harap mengetuk pintu gerbang asrama yang berwarna hijau. Terlihat raut wajah yang putus asa dari beliau. Beliau rutin singgah di depan asrama PPSDMS Surabaya hanya untuk sekadar menagih biaya langganan koran. Eh, ternyata siang hari menjadi “kuburan” bagi asrama. Tidak ada orang sama sekali di dalam sana. Akhirnya mau tidak mau saya harus membayar tagihan tersebut. Tahukah kawan berapa jumlah tagihan itu? Nominalnya hampir mendekati nilai hutang saya. Mungkin 2% lebih ringan dari hutang saya sebenarnya.

Nah dari ketiga kondisi tersebut, mungkin sedikit “lebay” bahkan “alay”. Tapi perlu kita sadari, bahwa setiap fenomena dalam kehidupan ini tidak lepas dari keterlibatan pikiran kita. Seperti halnya dalam sebuah film, tidak ada sebuah scene yang dibuat tanpa campur tangan seorang sutradara. Istilahnya tidak semata-mata sebuah film langsung seperti hasil akhirnya saat kita tonton. Dalam proses pembuatannya, ada arahan untuk menciptakan suatu kondisi yang sutradara inginkan hingga menjadi film yang kita tonton saat itu. Singkatnya, fenomena yang terjadi dalam diri kita, adalah sebuah daya tarik yang sudah kita komunikasikan kepada alam. Sadar atau tidak sadar, hal itu sudah menjadi siklus komunikasi kita dengan alam. Dalam sebuah film yang berjudul Rectoverso, sebuah klub firasat mencoba untuk menerangkan bahwa sejak lahir manusia itu mampu berkomunikasi dengan alam. Akan tetapi, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangannya dalam memahami bahasa manusia, mereka sudah lupa untuk memahami bahasa alam. Mungkin hanya sebagian kecil saja yang masih peka terhadap hal itu.

Setidaknya, dengan kehadiran tulisan ini saya ingin sedikit berbagi kisah bahwa kita mampu menjadi aktor sekaligus sutradara dalam kehidupan ini. Ketika Anda ingin menjadi seorang Peneliti Muda sukses, tanamkan dalam benak Anda, tegaskan dalam pikiran Anda, bulatkan dalam hati Anda, dan ucapkan dalam doa Anda bahwa Anda akan mencapainya. Setelah itu, lakukanlah dengan totalitas. Karena sejatinya, aktor yang handal adalah mereka yang penuh totalitas dalam setiap perannya. Untuk masalah hasil, serahkan pada Sang Penguasa Diri kita. Begitu pula halnya ketika Anda menginginkan menjadi calon Suami Dokter, tanamkan dalam benak Anda, tegaskan dalam pikiran Anda, bulatkan dalam hati Anda, dan ucapkan dalam doa Anda bahwa Anda akan mencapainya. Setelah itu totalitaslah dijalan tersebut. Serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Dzat Pencipta Alam Semesta ini. Hal itu berlaku untuk setiap kondisi yang kita inginkan. Apa yang kita pikirkan, itulah yang akan alam berikan. Cobalah terus berpikir positif, agar jiwa dan raga Anda menerima hal positif dari alam ini. Percayalah bahwa alam ini sedang menunggu interaksi dari kita. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bi shawab

Di Repost Pada :
Jumat, 15 Juli 2016
Menanti Sore di Kampung Halaman

Advertisements

2 thoughts on “Gertakan Hati, Sebuah Isyarat Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s