I Miss You, an Apple Tree

Selamat Malam Sobat,
Tulisan ini adalah hasil muat ulang tulisan 3 tahun lalu yang sempat saya posting di blog pribadi dengan domain blogspot. Tapi, kondisi ini masih sangat relevan dengan apa yang saya rasakan saat ini, 7 Agustus 2016. Selamat membaca 🙂

Begitu senang rasanya kembali melankolis untuk sedikit berbagi. Entah hawa apa yang telah mendorong keinginanku untuk menuliskan ini. Yang jelas, ledakan ini sebanding dengan kerinduanku pada kedua orangtuaku nan jauh di sana -Semoga Allah melindungi dan menjagamu mamah dan bapak- Aamiin.

Mungkin ini tulisan yang sangat melankolis buatku. Hanya malam yang tahu betapa rindunya diri ini untuk memeluk mereka erat, meluapkan kerinduan yang selalu menyesakan dada. Wah, gara-gara pohon apel nih yang uda buat saya nulis begini. Tapi tidak apa-apa, memang itu yang membuatku semakin rindu tak tertahankan kepada kedua orangtuaku. Di malam inilah, Sabtu, 16 Februari 2013 pukul 23.23 aku luruskan badanku menyandarkan tulang belakangku untuk melamun. Tak sadar, akhirnya aku pun terbawa ke dalam kisah pohon apel dan anak lelaki.

Kisah itu berawal dari seorang anak laki-laki yang memiliki perawakan kecil, kurus, hitam, berambut ikal dan pendek –sangat mirip dengan penulis sewaktu kecil-. Betapa kesehariannya ia habiskan untuk bermain dan bermain. Ia tidak sendiri, ia selalu ditemani oleh pohon apel yang setia menemaninya setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu dan begitu pula dengan pohon apel yang sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu….

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Ia merasa bosan untuk terus bermain bersama pohon apel itu. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.

“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang. Tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel itu.

“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”

“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel itu.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu pun merasa gembira melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu pun merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi denganku” pinta pohon apel.

“Aku sedih” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukan kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang didambanya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

“Maaf nak,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu,”

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk memakan buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu,”

“Oh bagus sekali, tahukah kau bahwa akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring dipelukan akar-akarku dan berisitirahatlah dengan tenang,”

Anak lelaki itu berbaring dipelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya. –selesai kisahnya-

Begitulah kisah yang saya baca dari sepenggal dongeng entah darimana asalnya. Yang jelas, ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu diibaratkan orangtua kita. Ketika kita masih muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika tumbuh besar, kita meninggalkan mereka dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apapun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sadarkah kita dengan semua itu…

Jawabannya ada pada diri masing-masing. Masih belum terlambat untuk memperlakukan kedua orangtua kita jauh lebih baik.  Ich Liebe Dich Mamah dan Bapak.

*Semoga tulisan ini mampu mengingatkan kita untuk terus berbuat baik kepada kedua orangtua kita yang selalu memberikan pengorbanannya bagi kita. Tak pernah kita tahu seberapa besarnya kasih dan sayang mereka yang telah dicurahkan kepada kita. Mungkin jika Allah membukakan gudang kasih dan sayang mereka, akan membuat kita selalu tak ingin jauh dari mereka.

“Ya Allah ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan dosa-dosa kedua orangtua kami. Sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangi kami sewaktu kecil”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s