Pekerjaan Hati dalam Penghambaan

Cukuplah semua itu bermuara di hati yang terdalam
Tak perlu kau umbar seperti halnya hitam yang kelam
Kau menginginkan siang, tapi kau dapati malam
Begitulah dunia yang dipenuhi hukum alam

Jika memang kau sanggup mewujudkan
Kejarlah ia dalam setiap sujud penghambaan
Mengadu pada Allah tanpa keraguan
Hingga hatimu diliputi ketentraman

Betapa berat amanah pekerjaan ini
Yang membuatku tak berdaya dalam menjalani
Dengan banyaknya rintangan yang menghalangi
Tapi tak membuatku pantang untuk terus pergi

Karena itulah alasan Allah yang ada
Menjadikan diri ini sebagai sebuah tanda
Atas keagungan dan kemuliaan-Nya
Menjadikan hati ini tuk terus memuja-Nya

Indah rasanya jika rasa ini bisa dirasakan olehmu
Karena bayangan itu kan menjadi nyata bukan lagi semu
Hati ini akan terus bersemangat dalam ketaatan
Sampai batas akhir dari masa penghambaan

Sinergitas Pikiran, Hati, dan Akhlak menuju Indonesia Bermartabat

Siluet Fiqly Pelabuhan Ratu

Di zaman yang serba canggih, membuat setiap orang mampu mengekspresikan dirinya dan mencurahkan pikiran secara bebas. Di dalam Islam, tidak ada yang namanya  pikiran bebas. Setiap orang tetap diikat oleh suatu pedoman yang telah diturunkan kepada orang pilihan. Pedoman tersebut telah paten, tidak diragukan, dan terbukti kebenarannya sejak 14 abad silam, yaitu Al-Quran. Meski demikian, masih banyak orang yang mengaku beragama Islam tapi perilakunya tidak mencerminkan keislamannya. Kita soroti misalnya bangsa Indonesia, yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam. Masih banyak kasus-kasus yang telah mencoreng nama Islam itu sendiri. Seperti misal kasus korupsi yang telah menjamur dimana-mana. Yang mana pelakunya adalah mengaku orang Islam, meski mayoritasnya dikatakan Islam Kartu Tanda Penduduk (KTP). Continue reading “Sinergitas Pikiran, Hati, dan Akhlak menuju Indonesia Bermartabat”

Antara Lidah dan Otak

Suatu hari di tengah merah meronanya langit, terngiang hembusan angin berbisik lembut. Bercampur dengan derasnya gelombang suara riuh dan membisingkan. Tiba-tiba terdengar gemuruh rasa syukur dan pujian. ”Alhamdulillah…” dengan lantang anak paruh baya itu berucap. Semua riuh hilang terbenam seiring transformasi warna dunia. Seruan itu pun akhirnya memaksa kami untuk sadar bergerak menyucikan diri. Continue reading “Antara Lidah dan Otak”